“Nggak! Aku
nggak mau kalo kamu ada disini...! Pergi dari sini.... aku mau Fasya..! Bukan
kamu!” Kataku seraya menangis. Aku terkulai lemah tak berdaya di tempat tidur.
Sudah 3 hari aku dirawat disini karena penyakit yang aku derita. Dan hari ini,
seseorang yang sangat aku benci datang menjengukku. Dia datang seraya menangis
melihatku tak berdaya di tempat tidur seperti ini. “Maafkan aku.... aku tau ini
semua salahku...aku yang udah nyakitin kamu sampe kamu jadi kaya gini...aku
sadar aku jahat banget sama kamu.. aku sayang sama kamu....” Aku mengabaikan
semua kata-katanya. “Aku nggak mau kalo kamu ada disini... pergi aja dari sini.
Aku Cuma menginginkan Fasya...”
3 hari yang lalu sebelum aku berada
disini, aku mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan. Tak kusangka, ternyata
orang yang selama ini telah bersama dengan aku sekitar setahun 2 bulan itu
sudah menghianati aku. Padahal aku telah berkorban apapun demi dia. Tapi, dia
membalas apa yang telah aku lakukan selama ini demi dia dengan membuatku
terluka.
Kemudian, akhirnya aku dirawat di Rumah
Sakit ini karena penyakit yang telah aku derita selama ini kambuh lebih parah
dari sebelumnya. Lalu ada seseorang yang sangat setia menungguku disana. Akupun
merasa lebih tenang sejak dia ada disampingku. Perlahan aku mulai melupakan
semua kenangan-kenangan pahitku. Aku merasa dia adalah seseorang yang aku
idamkan. Perlahan tapi pasti, rasa itu mulai tumbuh dihatiku. Aku merasa jika
sehari tanpa dia hidupku terasa hampa. Entah, apa benar apa yang aku rasakan ini adalah rasa cinta,
entahlah. Karena aku berpikir jika memang benar rasa itu ada dihatiku, apa aku
bisa menyembuhkan traumaku selama ini? Tapi aku coba buat menerima semua yang
terjadi saat ini, tentang perasaanku pada Fasya.
Seperti biasa pagi itu aku ditemani oleh
Fasya. Dia sangat sabar dan telaten merawat aku. Ibuku pun senang melihat
banyak perubahan pada diriku sejak adanya Fasya. Aku bisa kembali menjadi aku
yang dulu. Kali ini Fasya membawakanku boneka beruang pink berukuran cukup
besar. Aku pun tersenyum menyambutnya. “Pagi aisyah......” Katanya seraya
tersenyum padaku. “Pagi juga Fasya... boneka itu buat aku?” Tanyaku seraya
menunjuk ke arah boneka pink yang Fasya bawa. “Eh...iya. Ini buat kamu...”
Jawabnya. Akupun menerima boneka itu dengan senang hati. “ Maaf ya aku jadi
merepotkan kamu selama ini...” Fasyapun menggeleng, “Engga... sama sekali ngga
ganggu kok... aku justru seneng bisa temenin kamu terus..” Aku tersenyum. Tiba-tiba
Fasya memegang tanganku. “Hm.... aku boleh nggak ngomong sesuatu sama kamu?”.
“tentu boleh.....” Jawabku. “Selama ini aku memendam perasaanku sama kamu...
aku sayang sama kamu, tapi aku tahu kalau kamu masih bersama Azham.... ya apa
boleh buat. Tapi, karena saat ini kamu udah nggak sama dia lagi.. aku mau
nyampein kalo selama ini aku suka sama kamu...apa kamu juga merasakan hal yang
sama?” Katanya sambil memegang tanganku erat-erat. Akupun menjawab, “
Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama seperti kamu...tapi aku.....”
Fasyapun mengerti apa yang aku pikirkan
saat ini, dan diapun menjawab, “Ya...aku mengerti kok apa yang kamu pikirkan...
nggak apa-apa... mungkin lain waktu kamu udah bener-bener bisa.” Akupun berpikir kembali, dan berkata dalam hati,
“Mungkin lebih baik aku bersama dia... toh sekarang dia udah bisa membuatku
kembali seperti dulu lagi.... apa aku harus berkata iya..??” Setelah cukup lama
aku berpikir, aku telah menemukan jwaban yang cocok. “Fasya....ayo kita coba
buat menjalani ini.... aku mau buat......”. Fasyapun tersenyum bahagia.
“Jadi....kamu dan aku...saat ini....??”
Aku tersenyum dan mengangguk. Pada saat itu aku merasa bahagia sekali.
Ya, semoga ini jauh lebih baik dari yang dulu.
Akhirnya setelah seminggu aku dirawat di
Rumah sakit, aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Betapa senangnya aku saat
itu. Akhirnya aku meninggalkan tempat yang membosankan itu. Sambil memeluk
boneka beruang yang telah diberikan oleh Fasya beberapa hari yang lalu, aku
berjalan pelan melalui lorong-lorong rumah sakit. Dan ternyata, Di depan rumah
sakit Fasya sudah menungguku. Dia tersenyum padaku dan melambaikan tangannya.
Akupun tertawa melihat dia. Kemudian aku meminta ijin pada ibu untuk menemui
Fasya sebentar. Dan ibupun memperbolehkanku. Aku berjalan menghampiri Fasya.
Namun, baru setengah perjalanan, Fasya
pun mencegahku untuk memeruskannya. Akhrinya dialah yang menghampiri aku dan
menuntun aku menuju ibuku kembali. “Udah, nggak usah repot-repot ke aku.... aku
yang seharusnya ke kamu. Bantu kamu ke parkiran.” Kata Fasya. Aku pun tersenyum
dan berkata, “ Terima kasih Fasya...”
Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Dan ketika aku sampai di sebelah
mobil ibuku, Fasya membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk. Aku pun merasa
nggak enak hati. “Ah.... nggak usah sampe segitunya....” Fasyapun menjawab, “ Hei...nggak apa-apa lagi.... ini
kan udah kewajibanku.” Aku tersenyum
pada dia. “Terima kasih sayang” . Tak kusangka ternyata ibuku melihat semuanya.
“Ehem ehem..! ya ya.... pasangan baruu....” Akupun tertunduk malu. Begitupun
Fasya. Kemudian Fasya menghampiri ibuku dan menyapa ibuku sambil mencium tangan
beliau. “ Pagi tante.... emh.... Fasya langsung pulang ya tante.. masih ada
urusan. Maaf nggak bisa temenin Aisyah sampe rumah.” . Ibukupun menjawab,
“Eh..nggak apa-apa kok... terima kasih sudah membuat Aisyah kembali jadi yang
dulu. Nitip Aisyah ya. Jangan sampe kamu sakitin...” Fasya menjawab, “Siap
Tante...! Fasya pergi dulu Tante...assalamu’alaikum...” “Waalaikum salam...
hati-hati ya...!” Jawabku dan ibuku.
Setibanya di rumah, aku memilih untuk
beristirahat terlebih dahulu. Namun ketika aku hampir memejamkan mataku, hape
yang ada di balik bantalku bergetar. Aku mengambilnya dan membacanya. Ternyata
SMS dari Azham

Tidak ada komentar:
Posting Komentar